Pelajaran di Pinggir Jalan

Kawans tanpa di sadari banyak sekali pelajaran di pinggir jalan, tentu kita tidak sedang berpikir pelajaran di bangku sekolah. sebab bagi kita semua dapat memberi pelajaran. siapapun, kita bisa belajar dari tukang becak, pengemis, direktur, komisaris, pedangan asongan, anak kecil, siapapun.
ayo...kita ambil hikmah dari siapapun

Jumat, 11 Desember 2009

ANTARA KETEKUNAN DAN LONCATAN

Kawan, salah satu kesombongan yang dimiliki entrepreneur yang pernah memakan bangku sekolahan adalah kesombongan terhadap ketekunan. Seringkali kita menggap bahwa ketekunan adalah milik pengusaha jaman purba, menghambat kemajuan dan loncatan. Ketekunan hanya berlaku pada pengusaha supermikro yang mengandalkan keringat dan otot, dan itu tidak berlaku untuk anda. Orang yang pernah berjibaku dengan teori akademis.

Tapi inilah faktanya kawan, didunia ini tidak ada yang bias menngalahkan ketekunan, kecerdasan dan kekayaan pun tidak. Tanyakanlah pada pengusaha besar dimanapun, ketekunan adalah senjata pamungkas dalam meraih kesuksesan.

Mari kita definisikan ulang tentang ketekunan ini. Ketekunan yang saya maksud adalah keterus menerusan untuk melakukan sesuatu yang terkadang membosankan, ketekunan merupakan gabungan dari konsistensi, daya tahan, dan emosi. Relasi ketekunan dengan loncatan adalah sebagai berikut; ketekunan memberikan landasan yang kuat bagi loncatan, dan loncatan yang sukses hanya dapat diperoleh ketika kita telah melewati fase puncak ketekunan. Fase puncak ketekunan tersebut adalah expertise. Keahlian.

Kawan, terlalu banyak contoh usaha yang hancur karena ketidak tekunan dan keterburu-buruan. Diantara godaan loncatan itu adalah godaan untuk melakukan ekspansi, penambahan SDM, pembelian kantor, dll. Yang paling penting dalam hal ini adalah landasan. Tukang bangunan menyebutnya dengan pondasi. Apakah mungkin anda membuat bangunan tanpa pondasi? Itulah ketekunan yang menghasilkan pondasi berupa expertise.

Dan dunia itu kawan, menghargai Anda bukan karena teori akademis dan rencana loncatan anda, sebab betapa banyak teori akademis yang gagal di dunia bisnis, disebabkan pelakunya bukan pebisnis tapi akademisi. Dunia mengakui karena expertise anda, dan expertise adalah hasil dari ketekunan.

RENCANA, MOMENTUM DAN MEGAKARYA

KAWAN, ini adalah cerita tentang waktu yang abstrak. Rencana adalah ideal-ideal kita tentang sesuatu, sedangkan momentum adalah tepat tentang rencana itu menghasilkan megakarya kita yang sesungguhnya.

Tentang megakarya, setiap kita pernah melakukannya dengan kadarnya masing-masing. Manajemen biasa mengatakan ini dengan tahapan kesuksesan, saya menyebutnya dengan kesuksesan kecil sebelum megakarya. Prestasi-prestasi kita adalah karya-karya kita, sedangkan kumulasi dari prestasi kita adalah megakarya yang harus kita perjuangkan.
Kawan, pertemuan antara rencana dan momentum akan menghasilkan megakarya.

Oleh karena itu bagaimana kita mempertemukan keduanya adalah gabungan 2 hal yaitu kita sebagai manusia pembuat rencana dan Tuhan sebagai penentu momentum. Orang-orang besar di dunia ini tidaklah serta merta menjadi orang besar,tapi melewati berbagai proses aral dan ujian. Soekarno mengalami getirnya beberapa penjara dan pengasingan sebelum kemudian dikenal sebagai proklamator. Sayyid Qutb mengalami siksaan dan tiang gantungan sebelum namanya harum di seantero dunia ini. Muhammad Yunus harus memberikan pinjaman senilai 10 dolar kepada ibu miskin di banglasdes selama 25 tahun sebelum dunia mengenalnya sebagai pencipta bank bagi rakyat miskin/Graamen Bank yang kemudian menjadi model hampir diseluruh Negara dunia ketiga.

Kawan, Inilah hebatnya. sebelum bertemu momentum, Tuhan memerintahkan kita mengikuti prosesnya, merasakan pahitnya agar terasa manis akhirnya. Jadi tugas kita sebetulnya sederhana sekali. Lewati saja prosesnya, jalani saja gagasan dan mimpi besar Anda, terus lakukan perbaikan dan Tuhan akan menentukan momentumnya. Dan momentum itu diberikan ketika kita siap menerimanya. Setelah semua infrastruktur pribadi kita siap. Analoginya sederhana, orang tua kita tidak mengizinkan kita menikah sebelum mereka menganggap kita sanggup untuk memikul tanggungjawabb. Bukankah Tuhan tidak pernah tidur melihat kerja kita. So, selamat menikmati proses.

Selasa, 08 Desember 2009

MENGHORMATI KEGAGALAN

Ini adalah tentang seni tingkat tinggi kawan, seni tentang menghormati kebersalahan di negeri yang kegagalan dan kesalahan di anggap sebagai sesuatu yang buruk. Disini kita harus berjuang melawan mainstream umum kawan, lebih dari itu mungkin juga menahan rasa malu terhadap lingkungan sekitar yang dahulu pernah menaruh hormat kepada kita karena melihat kesuksesan kita. Menahan rasa bersalah sekaligus malu adalah emosi yang berat untuk diungkapkan. Memang manusia itu aneh kawan, ketika kita senang meraka akan banyak mendekat, dan jikaberada dalam kesulitan lebih nyaman menjauh.

Tapi disinillah seninya, seni menjadi menghormati kebersalahan.
Selama beberapa bulan atau tahun setelah periode kehancuran dan kegagalan kita, maka akan terjadi periode staganasi dimana kita akan merasa berada di ujung dunia yang gelap. Sepi sendiri mengahadapi masalah berat tak bertepi. Tarikan-tarikan sesat akan mulai menggelayuti pemikiran kita, bahkan adakalanya kita menyalahkan Tuhan, membuat berbagai alasan untuk membenarkan kegagalan kita, atau bahkan yang sangat jauh akan terpikir untuk melakukan kegiatan criminal agar menyelamatkan diri kita dari kehancuran.

Tapi percayalah kawan, pemikiran yang jauh seperti itu tidak akan menyelesaikan permasalahan. Yang Anda butuhkan pada saat ini hanyalah waktu untuk beradaptasi menghormati kegagalan. Hormatilah kegagalan itu dan terimalah apa adanya, lapangkanlah dada anda seraya mengatakan “ saya memang gagal, tapi saya akan bangkit”. Hormat terhadap kegagalan juga berarti anda menerima 100% konsekuensi dari kegagalan tersebut, sebagaimana anda menghormati kesuksesan.

Tahukah kawan, tak ada seorangpun di dunia ini yang tidak pernah tidak gagal. Tapi yang membedakan adalah bahwa orang-orang besar akan menghormati kegagalan mereka dan segera bangkit setelah periode itu. Nah kecepatan kita untuk beradaptasi terhadap kegagalan serta menghormatinya, akan menentukan seberapa cepat anda bangkit, sebab hal ini akan sangat mendukung proses recovery mental anda yang sedang sakit.

Sabtu, 05 Desember 2009

TAK ADA UANG SEPESERPUN

Ini adalah cerita tentang seni dalam hidup kawan, seni hidup tanpa uang. Sebab uang seringkali menjadi sumebr masalah dan malapetaka, tapi juga pembuka jalan bagi banyak kebaikan. Hidup tanpa uang kawan, hati terasa sesak terhimpit, pikiran membeku, lidah menjadi kelu dan kaku, sementara emosi menjadi kurang terkendali.

Sebab inilah hidup, sejarah manusia selalu dibumbui tentang harta dan dunia sejarah tentang kemakmuran dan kesejahteraan selalu tentang harta dan pencapaian sedangkan sejarah tentang keterpurukan dipastikan bercerita tentang kemiskinan dan turunannya.

Oleh sebab itu kawan, ketika berbicara tentang hidup tanpa uang, sebetulnya kita sedang berada pada suatu titik sejarah yang kelak aka menjadi cerita lucu dan menarik. Paling tidak untuk anak cucu kita, dan kita dapat menikmati indahnya proses ketika kita pernah mengalami beratnya hidup. Marilah sejenak kita nikmati fase ini, sebab fase ini adalah indicator daya tahan dan merupakan cambukan percepatan hidup.

Ya, percepatan hidup kawan, proses ini hamper sama dengan karapan sapi di pulau garam sana. Untuk mendorong agar sapi berlari lebih cepat, maka Sang penunggang karapan akan menusukan jarum ke bagian belakang si sapi, setelah itu di pecut, ditusuk lagi, dan begitu berulang seterusnya. Tapi tahukah anda, proses ini hamper sama dengan diri kita. Kondisi moneyless adalah pelecut kita untuk berpikir lebih cepat, bekerja lebih produktif dan bertindak lebih akurat terdapat kondisi tersebut, intinya adalah apapun akan kita lakukan untuk menghasilkan uang, dan ini akan mengalami beberapa fase yaitu; 1. Kita akan bekerja apapun yang penting bisa menghasilkan uang, agar kita bisa hidup. 2. Kita akan memilih yang menghasilkan uang lebih besar dan lebih cepat dan yang ketiga kita akan memilih yang lebih besar, lebih cepat lebih menyenangkan dan nyaman dihati.

Tahukah kawan, bisa jadi pada fase ke-3 adalah potensi terbesar kita. Pada saat itulah kita akan berlari sangat cepat.

Artinya pada saat itu potensi kita bertemu dengan lingkungan yang tepat. Dan itulah kunci dari proses exploid potensi yaitu ; potensi yang tepat bertemu dengan waktu yang tepat dan pada saat yang tepat. Jika anda menemukan hal ini, saya ingin sekali mengucapkan selamat menempuh prestasi.

Oh ya,kondisi moneyless juga akan menunjukan berapa kuat rasa berserah anda kepada Tuhan, pada titik ini, kuncinya adalah lakukanlah semua yang anda pandang terbaik untuk anda dan serahkan semua hasilnya kepada takdir. Sebab Tuhan akan menunjukan cara-Nya sendiri untuk kita.

KEBERSALAHAN

Diantara keterpurukan terbesar setelah kegagalan menimpa seorang pahlawan adalah kebersalahan, ia merasa begitu bersalah yang mendalam, depresi, stress, seakan dunia begitu menghimpit. Dan manusia begitu tak lagi membedakannya, inilah tabiat manusia mayoritas, mendekati orang yang sukses dan seringkali menjauhi orang yang sedang dalam keterpurukan.

Emosi dan dukungan orang terdekat begitu manfaat dalam hal ini, interkoneksi dalam jiwa yang sedang rumit akan menghasilkan simpul=simpul cahaya yang kelak akan menajadi energy baru. Menemukan relasi musabab dan membuat argument logis dari kesalahan yang dibuat membutuhkan waktu yang lama.

Kawan, yang sangat penting dalam periode ini bukanlah kebersalahn itu sendiri, tapi kita harus mengumpulkan energy untuk kebangkitan jiwa dan diri kita yang lebih besar dan lebih dahsyat dari perasaan bersalah dan kegagalan kita saat ini. Energy jiwa itu dimulai dengan keikhlasan, menerima kesalahan diri kita apa adanya,
mengikhlaskan kekacauan manajemen, mengikhlaskan caci maki dan pandangan sinis orang yang pernah kita mengagumi kesuksesan kita dan bahkan mengikhlaskan kesalahan orang-orang yang berkhianat terhadap kita.

Saya biasa menyebut periode ini dengan zero point. Titik Nol. Sebab ikhlas dalam agama berarti memmurnikan, tidak mengharap apapun. Kawan, relakanlah semua lepas, lapangkan dada anda. Itu lebih enak dan membahagiakan dibandingkan anda menunjuk kesalahan orang lain, mencaci maki, bahkan dalam waktu lama berkutat dalam lingkungan tidak produktif.

Kembalilah ketitik nol, sebab dulu ketika awal anda memulai bisnispun anda berada dalam titik nol bukan, tidak memiliki apapun, lahir tidak membawa apapun. Jadi jikalau sekarang anda kembali ke titik nol tidak menjadi masalah bukan? Masalahnya tinggal bagaimana berdamai dengan emosi dan meneguhkan kepercayaan diri.

Setelah berada pada titik nol, selanjutnya kembalikanlah segala sesuatu kepada yang Maha Memiliki, Yang Maha Sempurna dan Yang Maha Menggantikan, jika anda salah mintalah ampunan dari Yang Maha Pengampun, jika anda merasa kehilangan, Mintalah dari Yang Maha Menggantikan, bukankah Tuhan Maha Kaya sehingga apapun yang ada dimuka bumi iini menjadi kekuasaan dan wewenang Dia untuk menjadi atau mentidak jadikannya. Kembalilah kawan, terkadang dalam hati ini terbersit kesombongan dalam membangun bisnis, ternyata hanya Tuhan Yang Maha Sombong.

Dalam hal ini saya teringat pesan salah seorang sahabat, beliau bercerita kepada saya tentang seekor makhluk hidup yang mencari makan di pinggir rumah, setiap hari makhluk ini melakukan rutinitas nya dengan sangat giat. Dia lupa bahwa setiap hari makanan tersebut ternyata ada yang memberikan. Suatu saat sedang mencari makan sang makhluk tersebbut tidak menemukan makanannya…apa yang ia lakukana…maka ia aakan sadar untuk kembali kepada sang pemberi makan. Dan mungkin makhluk hidup itu adalah kita kawan.

Ayo, Bangkit dari kebersalahan. Tatap dunia baru kita dengan nanar, bahwa kita punya hak untuk mewarisi kejayaan ini.

MENJAGA GAGASAN BESAR

Salah satu bagian paling rumit dalam diri seorang pahlawan sejati adalah menjaga gagasan-gagasan besarnya tentang kesuksesan diantara tumpukan kegagalannya. Dalam masa ini kegagalan akan selalu menghatui dan membisikan bahwa dirinya adalah orang yang gagal dan hanya pantas menjadi follower.

Kawan, tahukah Anda apa artinya ini? Ini artinya bahwa gagasan Anda sebetulnya sedang mengalami kristalisasi menjadi gagasan raksasa yang kuat tertanam dalam diri, akan tetapi jebakannya adalah jika Anda mengikuti kata nafsu Anda untuk berhenti memiliki gagasan besar, maka Anda benar-benar akan menjadi follower.

Gagasan besar akan tertanam dihati Anda pada saat itu selama beberapa lama, kemudian punah, timbul, dan punah lagi, begitu selama beberapa bulan bahkan tahun. Tetapi disinilah seninya kawan, pedang hanya akan akan tajam ketika ia di tempa bukan sekali, tetapi beberapa kali. Bahkan ratusan dan ribuan kali, ketika sipembuat pedang bosan menempa maka besi akan tetap menjadi besi.

Pergantian antara gagasan besar dan dorongan menjadi follower memiliki tempat sendiri dibagian otak kita ia adalah keterampilan diri kita untuk mengembalikan mood sebagai “calon orang besar” dan tarikan menjadi orang rata-rata.

Salah satu seni yang biasa saya lakukan untuk mengembalikan gagasan bersar ini adalh dengan berdialog dengan diri sendiri membayangkan, mengingat masa lalu, dan mentertawakan kebodohan diri sendiri. Tak jarang pula saya berdialog dengan sang pendamping, memberikan sepotong empty bagi orang lain dan pergi ke tempat kumuh, membaca buku-buku lucu dan mencari lakon dalam realitas. Lebih dari itu say juga membaca biografi tokoh-tokkoh besar, dan jika ada perjalanan hidup yang mirip dengan saya maka dengan secepat kilat saya mengatakan “saya akan lebih hebat dari dia”.

Kawan , hasil dari menjaga gagasan besar adalah gagasan raksasa. Dan wujud dari gagasan raksasa ada megakarya, orang biasa menyebutnya dengan karya monumental. Dan gagasan ini hanya dapat diwujudkan oleh orang kuat seperi Anda. Jadi, jika Anda berada dalam keadaan terpuruk, bahkan harus tiarap sekalipun, pertahankanlah gagasan besar Anda, teruslah berdialog dengan diri dan lingkungan Anda sebab ada waktunya ia akan menjadi pedang yang tajam. Dan Anda adalah ksatria nya.

Jadi tak masalah sementara waktu Anda orang yang kalah, akan tetapi Anda harus tetap menjaga gagasan besar itu.